Pengumuman

DIALOG INTERAKTIF BEDAH BUKU PANDUAN SEKOLAH DAN MADARASAH RAMAH ANAK

Artikel Telah Dibaca 115 Kali

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Bandung menyelenggarakan kegiatan bedah buku panduan sekolah dan madrasah ramah anak pada hari Senin, tanggal 22 Mei 2017 bertempat di aula lantai 3 gedung Dispusip Jalan Seram No. 2 Kota Bandung.
Kegiatan dialog interaktif ini dipimpin oleh Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan dan Kearsipan, Ibu Neti Supriati, SH., M.Si yang bertindak selaku moderator. Sedangkan narasumber yang memberikan paparan pada kegiatan tersebut adalah Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Bapak Dr. Susanto, MA.
Menurut Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 Pasal 1 tentang Perlindungan Anak, kekerasan merupakan suatu perbuatan terhadap anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan fisik, psikis, seksual atau penelantaran termasuk ancaman.
Perbuatan tersebut dapat dilakukan oleh siapa saja, baik itu guru, orang tua, atau sesama anak. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memperoleh data di tahun 2016 mengenai kasus yang banyak menimpa anak. Di urutan pertama adalah anak berhadapan dengan hukum, dimana anak menjadi pelaku kekerasan.
Urutan kedua adalah anak menjadi rebutan hak asuh ketika orang tuanya berpisah (cerai). Dan yang ketiga ialah anak menjadi korban cyber crime serta pornografi. Salah satu faktor penyebab anak menjadi pelaku kekerasan adalah tontonan televisi, karena menurut survey Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebanyak 43% tontonan di televisi berisi kekerasan, termasuk tontonan yang disiarkan untuk anak.
Dialog diawali dengan penjelasan mengenai refleksi guru di Indonesia, yakni perbedaan motif, mindset (pola pikir), disiplin keilmuan dan proses pembelajaran. Hal-hal tersebut merupakan beberapa factor yang mempengaruhi perilaku guru disekolah, terutama ketika menghadapi permasalahan yang berhubungan dengan anak didiknya yang kemudian dapat berimbas pada munculnya kekerasan di sekolah.
Dalam menanggapi permasalahan tersebut, yang harus dilakukan guru diantaranya :
1. Mengikuti seminar dan pelatihan untuk mengubah mindset
2. Menyiapkan sarana dan prasarana yang ramah anak
3. Melaporkan jika ada buku yang tidak sesuai untuk anak
Dalam menjalankan profesinya, guru memiliki kebebasan. Menurut Undang-Undang Guru dan Dosen pasal 14 (f), kebebasan tersebut harus sesuai dengan kaidah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undangan. Namun menjadi seorang guru juga memiliki beberapa tantangan, diantaranya :
1. Perluasan makna tentang perspektif pendidikan
2. Teori dan pendekatan pembelajaran terus berkembang
3. Perkembangan teknologi dan informasi sangat pesat dan tak terbendung
4. Masalah anak yang semakin kompleks
5. Perlindungan anak terintegrasi dalam pendidikan
Adapun temuan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengenai guru dalam kasus kekerasan anak di sekolah, diantaranya :
1. Kelompok guru yang ingin mendapatkan perlindungan, tetapi menjadi pelaku kekerasan.
2. Kelompok guru yang mendapat ancaman kekerasan, tetapi tidak menjadi pelaku.
3. Kelompok guru yang tidak menjadi pelaku kekerasan, tetapi mendiamkan atau tidak melaporkan tindakan kekerasan.
Kekerasan yang terajdi terhadap anak di sekolah dipicu oleh banyak hal, diantaranya yaitu :
1. Sistem management sekolah
2. Mindset pendidik dan tenaga kependidikan
3. Norma sekolah
4. Pola pendisiplinan
5. Kultur di lingkungan sekolah
Ada beberapa persepsi guru yang salah mengenai kekerasan seperti guru menganggap pendekatan kekerasan merupakan upaya pendisiplinan yang terbaik, bagus untuk perkembangan siswa dan cara mengkader generasi sukses.
Padahal kekerasan bukan cara terbaik untuk mendisiplinkan, tetapi membuat anak takut dan menimbulkan trauma. Ketika anak berbuat suatu kesalahan, seharusnya dinasehati agar mengerti apa yang benar melalui pembelajaran yang tepat sehingga ia tidak akan mengulangi kesalahan tersebut kembali.
Terdapat beberapat indikator sekolah ramah anak diantaranya, yaitu :
1. Indikator Input
• Ketersediaan kebijakan
• Ketersediaan kurikulum
• Ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM)
• Ketersediaan kegiatan dan penganggaran
• Ketersediaan referensi yang mendukung
• Ketersediaan sarana dan prasaran
2. Indikator Output
• Mata pelajaran berperspektif perlindungan anak
• Karya tulis/informasi berperspektif perlindungan anak
• Buku ajar berperspektif perlindungan anak
• Media berperspektif perlindungan anak
• Sarana dan prasarana berperspektif perlindungan anak
3. Indikator Outcome
• Tumbuh pemahaman sista tentang bullying
• Kesadaran siswa meningkat dalam mencegah bullying
4. Indikator Impact
• Peran alumni dalam pencegahan terjadinya kekerasan di sekolah
Tujuan diselenggarakan dialog interaktif tersebut dimaksudkan agar kekerasan terhadap anak khususnya di area sekolah dapat diminimalisir oleh pemahaman guru yang baik dalam mendidik dan mengajar anak asuhnya di sekolah sehingga baik sekolah maupun madrasah merupakan tempat yang ramah bagi anak dapat terwujud.

Editor's choice 2017
No Comments

    Leave a reply