Pengumuman

Focus Group Discusion (FGD) tentang Wali Kota Bandung ke XIV Bapak Ir. Oekar Bratakoesumah

Artikel Telah Dibaca 10 Kali

Senin, Tanggal 20 Oktober 2017, telah dilaksanakan Focus Group Discusion (FGD) hasil penelusuran sumber sejarah tokoh walikota Bandung ke XIV “Ir. Oekar Bratakoesoemah” Berikut adalah beberapa masukan dari Narasumber di acara Focus Group Discusion yang dilaksanakan di hotel summit siliwangi Bandung :

1. Bapak Mumuh (Tim Peneliti Universitas Padjadjaran Fakultas Ilmu Budaya).
– Sejarah adalah milik kita semua, siapapun bisa menulis sejarah.
– Tulisan sejarah relatif tidak banyak, maka dari itu tulisan sejarah harus dipublikasi supaya masyarakat dapat mengetahui sumber
sejarah dari suatu tokoh, bangunan dan lain-lain.
– Sumber sejarah terbagi menjadi dua yaitu tulisan dan lisan (bisa melalui wawancara).
– Anak dan cucu dapat dijadikan sebagai sumber sejarah primer karena mereka mempunyai hubungan yang erat dengan tokoh tersebut.
– Ada dua orang yang berpengaruh dalam dunia sejarah yaitu :
1) Sejarawan;
2) Wartawan.
Mereka berdua dapat “membesarkan orang besar”, “membesarkan orang kecil” dan “mengecilkan orang besar’.
– Bapak Ir. Oekar Bratakoesoemah merupakan orang yang santun dan tidak suka dipublikasi sehingga tidak banyak orang atau
masyarakat yang mengetahui sejarah Bapak Ir. Oekar Bratakoesoemah, maka dari itu Bapak Ir. Oekar Bratakoesoemah pantas dijadikan
sebagai tokoh penting Jawa Barat.
– Bapak Ir. Oekar Bratakoesoemah sebenarnya dilahirkan di Ciamis bukan di Bandung.
– Dalam dunia sejarah penting sekalinya adanya dokumen atau arsip sebagai bukti otentik dari suatu peristiwa sejarah, jika tidak
ada dokumen maka tidak ada pula sejarah tersebut.
– Mutiara-mutiara Pasundan banyak yang masih terpendam selain Bapak Ir. Oekar Bratakoesoemah, maka dari itu kegiatan penelusuran
sumber sejarah sangat penting dilakukan mengingat bahwa tanah Pasundan itu memiliki SDM yang berkualitas pada masa lampau.

2. Bapak Ridwan Hosea J. Hutagalung (Komunitas Aleu)
– Bapak Ir. Oekar Bratakoesoemah lahir pada tahun 1911 dan pensiun dari pekerjaan pada tahun 1966.
– Bapak Ir. Oekar Bratakoesoemah merupakan Wali Kota Bandung yang “menderita” karena beliau tidak mempunyai kantor sendiri di
Kota Bandung dan kegiatan beliau lebih banyak dilakukan di luar Kota Bandung dengan berjalan kaki melintasi gunung daerah
Garut, Tasikmalaya dan Ciamis.
– Beliau berkunjung ke Kota Bandung hanya untuk mengikuti rapat dengan pasukan kolonial Belanda yang dilaksanakan di Gedung Sate.
– Pada masa pemerintahannya, beliau tidak hanya mengurus warga dan masyarakat Kota Bandung saja tetapi warga dan masyarakat di
luar Kota Bandung terutama warga dan masyarakat di Bandung bagian selatan.
– Beliau juga pernah berjalan kaki ke Jakarta untuk menemui Wakil Presiden Moh. Hatta demi menanyakan tentang nasib Para Pegawai
Sipil di daerahnya dan Moh. Hatta memberikan jawaban kepada beliau dimana jawaban tersebut adalah keputusan nasib Para Pegawai
Sipil ada ditangan beliau itu sendiri .
– Menurut Bapak Ir. Oekar Bratakoesoemah tentang pahlawan dari Bandung Lautan Api adalah seluruh masyarakat Bandung yang telah
berjuang dan mengorbankan seluruh hartanya termasuk tanah Pasundan untuk dibakar secara massal demi mengusir penjajah dari
Bandung.
– Salah satu bukti bentuk pelayanan pada masa pemerintahannya adalah beliau pernah membangun jembatan di daerah Dayeuh Kolot dan
diresmikan secara langsung oleh beliau itu sendiri.

3. Bapak Vega K, St (Cucu ke-4 dari Bapak Ir. Oekar Bratakoesoemah)
– Spesifik karakter dari Bapak Ir. Oekar Bratakoesoemah itu sendiri adalah beliau mempunyai sifat tegas pada pendiriannya dan
tidak suka dipublikasi.
– Benda peninggalan beliau itu berupa buku-buku tentang beliau yang sudah lama tersimpan di Kebun Binatang Kota Bandung dan
sebagian buku peninggalannya sudah banyak dimakan rayap karena memang karakter beliau yang tidak suka bukunya dipublikasi.
– Pernah menjadi Dewan Pembina ITI bersama Bapak BJ. Habibie.
– Saking tidak banyaknya peninggalan bersejarah beliau, foto beliau yang sudah dipajang di lapangan Gasibu merupakan hasil dari
foto scan.

4. Ibu Nonoy (Cucu Pertama dari Bapak Ir. Oekar Bratakoesoemah)
– Pernah menjabat menjadi Rektor ITB.
– Beliau mengetahui letak geografis Jawa Barat terutama letak gunung dan sungai.
– Pernah melakukan napak tilas ke Bangka Belitung dan pada usia 74 tahun beliau masih melakukan napak tilas terakhirnya dari
Bandung ke Ciamis melalui jalan pesisir.
– Beliau juga selalu mampir berkunjung ke Kebun Binatang untuk memeriksa kandang-kandang hewan yang ada di dalam Kebun Binatang.
– Karakter beliau yang menonjol adalah anti nepotisme.
– Dokumen yang berisi piagam penghargaan terhadap Beliau sudah banyak hilang ketika Beliau dan keluarga berpindah tempat tinggal
dari Jakarta ke Bandung.

5. Bapak Ade Fahruroji (Anggota Legislatif dari Komisi I Partai Hanura)
– Sesuai semboyan dari Ir. Soekarno (Presiden Pertama RI) yaitu “ Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah (Jas Merah)”.
– 1/3 ayat di Al-Qur’an adalah sejarah, maka dari itu jika ingin melakukan penelusurun sejarah dari suatu tokoh, maka teruslah
menggali informasi tokoh tersebut dari kerabat/keluarga tokoh tersebut dan tidak lupa harus didampingi oleh sejarawan dan
didukung oleh seluruh lapisan masyarakat.
– Salah satu contoh pahlawan sejati adalah Bapak Ir. Oekar Bratakoesoemah (Wali Kota Bandung ke – XIV) dimana karakter beliau
adalah terus bekerja tanpa harus dipublikasi.

6. Bapak Iip Dzulkipli (Staf ahli Ketua Paguyuban Pasundan)
– Dari segi aspek Paguyuban Pasundan :
(1) Pada tahun 1939 – 1942 Bapak Ir. Oekar Bratakoesoemah pernah menjabat sebagai Sekretariat I (setara dengan Sekjen)
Paguyuban Pasundan.
* Ada tiga tokoh Paguyuban yang pernah menjabat menjadi Wali Kota Bandung antara lain :
a. Bapak Ating (Tahun 1942 – 1945) pada masa penjajahan Jepang sampai awal kemerdekaan;
b. Bapak Ir. Oekar Bratakoesoemah (Tahun 1947 – 1949);
c. Bapak M. Nooh (Tahun 1949 – 1957).
(2) Pada jaman dahulu jabatan Wali Kota terbagi menjadi dua yaitu :
1. Wali Kota Negara Pasundan;
2. Wali Kota pada jaman Pemerintahan Belanda.
(3) Bukti otentik tentang jabatan Bapak Ir. Oekar Bratakoesoemah sebagai Wali Kota Bandung ke – XIV berupa SK Wali Kota yang
dikeluarkan oleh Menteri Dalam Negeri yaitu Mr. Moh Roem berisi tentang kedudukan sebagai Wali Kota.
(4) Pengangkatan beliau saat menjabat sebagai Wali Kota dilakukan secara simbolik karena pada saat itu kondisi Pemerintahan
Indonesia dalam keadaan darurat dan tugas beliau adalah mengawasi para pengungsi dari Kota Bandung ke daerah Garut supaya
pengungsi tersebut tidak ditangkap oleh Belanda serta pada bulan Desember tahun 1948 beliau diangkat menjadi Gubernur Jawa
Barat yang ditunjuk langsung oleh Sjafruddin Prawinegara yang pada saat itu menjabat sebagai Presiden Darurat ke – II
Republik Indonesia melalui radiogram Radio All India pada saat beliau berada di pengungsian Jawa Tengah.
(5) apak Ir. Oekar Bratakoesoemah merupakan tokoh Paguyuban Pasundan yang menerima Konsensus Nasional NKRI.

7. Bapak M. Taufik Rahman, Ph.D (Ketua Jurusan Sosiologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
– Berdasarkan tafsiran dari anak buah Pak Ir. Oekar Bratakoeseomah yaitu Pak Tama menjelaskan bahwa kepribadian diri Pak Ir.
Oekar Bratakoesoemah mencirikan harapan masyarakat Sunda, bukan tipe pemberontak, memiliki sifat cageur, bageur, pinter, dan
singer terhadap kaum intelektual.
– Pada jaman dulu, Pemerintah Belanda menganggap bahwa suku Jawa adalah tipe suku yang suka memberontak daripada suku-suku lain
sehingga pada saat ini di Negara Belanda tidak ada jalan yang bernama Ir. Soekarno Street karena beliau berasal dari suku Jawa
dan suka memberontak terhadap Pemerintah Belanda.
– Dari segi perkembangan IPTEK, Bapak Ir. Oekar Bratakoesoemah mengambil pendidikan kuliah jurusan Teknik Sipil di ITB.
– Dalam kegiatan organisasi aktivis, beliau termasuk anggota yang aktif dan mempunyai pemikiran yang solutif serta memiliki 3
pilar dalam menghadapi segala kendala dan permasalahan yaitu :
1) Mengetahui permasalahan;
2) Mencari sebab permasalahan;
3) Memecahkan permasalahan yang ada.
5) Dari segi persaingan politik, beliau pernah dicurigai sebagai anggota DITII pada saat beliau berada dipengungsian daerah
Garut serta keterlibatan beliau sebagai anggota aktif Paguyuban Pasundan yang pada saat itu berada di Negara Pasundan.
– Beliau sangat aktif dalam dunia politik sehingga membuat beliau terjun di dalam dunia politik dan keterlibatan beliau dalam
dunia politik dapat dilihat dari segi dua sisi yaitu sisi positif dan negatif. Berikut adalah uraiannya :
1) Politik Positif :
a. Mempunyai kebijaksanaan yang praktis;
b. Sangat berhati-hati dalam suatu keputusan, selalu konsultasi terlebih dahulu dalam menghadapi suatu kendala dan sangat
diplomatis;
c. Mencari jalan keluar yang memuaskan dengan selalu mencantumkan dan menyebutkan peraturan UU yang terkait;
d. Memproses daya dukung yang ada.
2) Politik Negatif :
a. Faksional;
b.Tidak suka tergesa – gesa;
c. Anti nepotisme.

Adapun kesimpulan dari saran-saran tersebut yaitu Penyediaan sumber sejarah terhadap mutiara – mutiara Pasundan harus dilaksanakan sehingga dapat membantu dan memudahkan sejarawan dalam melakukan penelusuran sumber sejarah termasuk salah satunya adalah Dinas Perpustakaan dan Kearsipan yang telah menyelenggarakan penelusuran sumber sejarah terhadap salah satu mutiara Pasundan sekaligus tokoh Wali Kota Bandung ke – XIV yaitu Bapak Ir. Oekar Bratakoesoemah, dimana beliau adalah seorang teknokrat, birokrat dan ilmuwan.

Bidang Sistem Teknologi Informasi Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bandung

No Comments

    Leave a reply