Pengumuman

SAFARI GERAKAN NASIONAL GEMAR MEMBACA DI PROVINSI DAN KABUPATEN/KOTA TAHUN 2017

Artikel Telah Dibaca 211 Kali

Untuk mewujudkan upaya peningkatan budaya gemar membaca, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Bandung bekerjasama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) menyelenggarakan Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca dimana kegiatan tersebut dikemas sedemekian rupa menyerupai acara talkshow.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di aula lantai 3 gedung Dispusip (Jalan Seram No. 2) Kota Bandung pada hari Jum’at, tanggal 21 April 2017, dan dibuka oleh Asisten Ekonomi Pembangunan dan Pemerintahan Kota Bandung, Bapak Ir. H. Iming Ahmad, M.Si, MH mewakili Wali Kota Bandung, Bapak Ridwan Kamil yang tidak dapat hadir pada Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca tersebut.

Acara tersebut dihadiri kurang lebih 200 orang peserta dari berbagai macam kalangan seperti kepala sekolah, guru, penggiat dan pengelola perpustakaan Taman Bacaan Masyarakat (TBM), pemerhati perpustakaan dan budaya baca, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), karang taruna, tokoh adat dan agama, mahasiswa, pelajar serta perwakilan media cetak dan elektronik.

Selain peserta, narasumber yang hadir dalam acara tersebut diantaranya sebagai berikut :

  1. Bapak Junico BP Siahaan, SE (Anggota Komisi X DPR RI)
  2. Ibu Dra. Ofi Sofiana, M.Hum (Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpustakaan Nasional)
  3. Ibu Hj. Tati Iriani, SH., MM (Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat)
  4. Bapak Drs. H. Herry Moch. Djauhari, MM (Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bandung)
  5. Bapak T. Bachtiar (Penulis Buku Bandung Purba)

Pada kegiatan tersebut dibahas mengenai gambaran umum masyarakat Indonesia perihal minat baca yang sangat kurang, karena menempati peringkat ke 64 atau peringkat ke 2 terburuk dunia (http://blog.danadidik.com/budaya-literasi-indonesia-peringkat-ke-2-terburuk/).

Menurut Bapak Junico BP Siahaan, SE atau biasa dikenal dengan panggilan Nico Siahaan, ada 2 jenis bahaya laten yang menyerang generasi muda saat ini yaitu bahaya narkoba dan bahaya media sosial. “Generasi di awal tahun dua ribuan lebih sulit membaca buku karena sudah diawali dengan gadget (handphone, komputer dan aplikasi sosial media di internet), padahal gadget itu berbahaya karena lebih sulit bagi orang tua untuk mengawasi buah hatinya”, tutur Nico.

Nico berpendapat seharusnya orang tua mampu memberikan contoh dan menularkan kebiasaan membaca kepada anak. “Kebiasaan membaca merupakan karakter yang tidak bisa terbentuk tiba-tiba tetapi harus dibina sejak seseorang masih kecil. Selain itu peran orang tua juga sangat penting dalam hal ini, karena para orang tua harus bisa menumbuhkan kecintaan anak terhadap buku dengan membina mereka sejak kecil agar karakter anak bisa menjadi lebih baik apabila dibina dengan buku”, tambah Nico.

Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpustakaan Nasional, Ibu Dra. Ofi Sofiana, M.Hum dimana tahapan untuk menjadikan membaca sebagai suatu kebiasaan yakni dimulai dari penumbuhan minat baca dari orang tua kepada anak, karena anak cenderung akan mengikuti kebiasaan orang tuanya.

Setelah orang tua, pembiasaan dimulai di sekolah agar anak-anak tidak lupa untuk terus membaca. “Sekarang sudah diwajibkan bagi setiap siswa sekolah untuk membaca buku minimal 15 menit sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai,” lanjut Ofi, “Pemerintah pusat dan daerah juga membantu melakukan pembudayaan minat baca seperti yang dilakukan Perpusnas RI dengan cara membantu dalam hal fasilitas (buku) ke tiap perpustakaan kota dan kabupaten, menyediakan sudut baca di tempat-tempat umum seperti di bandara (bekerjasama dengan Angkasa Pura), dan mengirimkan perpustakaan keliling ke sekolah dan komunitas. Tak hanya itu Perpusnas RI juga memberikan bantuan berupa kapal perpustakaan dan pelatihan bagi para pengurus perpustakaan”. Tutup Ofi.

Sementara itu Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusipda) Jawa Barat, Ibu Hj. Tati Iriani, SH., MM menjelaskan bahwa budaya literasi (minat baca) merupakan bentuk perang terhadap kebodohan. “Jika kita tidak membiasakan dan menumbuhkan budaya literasi, maka akan muncul musuh yang tampak dihadapan kita yaitu kebodohan, kemiskinan dan ketidakdisiplinan. Salah satu cara untuk mengembangkan literasi, perpustakaan provinsi akan memanfaatkan kader-kader PKK, volunteer (sukarelawan) dan sebagainya untuk ikut berpartisipasi. Pengembangan ini dapat ditempuh dengan berbagai cara misalnya melalui pembiasaan di sekolah yang mewajibkan siswanya untuk membaca minimal 25 buku dalam kurun waktu 10 bulan”. Ucap Tati.

Dan narasumber yang sekaligus penulis buku Bandung Purba Bapak T. Bachtiar berpendapat bahwa buku merupakan inspirasi. “Buku merupakan inspirasi, jika seseorang sering membaca buku maka ia akan memiliki daya tahan terhadap informasi baru yang didapatnya sehingga ia tidak akan menerima informasi begitu saja. Selain itu jika seseorang memiliki pertanyaan saat melihat alam, maka jawaban yang paling terpercaya adalah buku. Bahkan tidak menutup kemungkinan muncul kebiasaan baru yaitu menulis buku ciptaannya sendiri”. Ujar Bachtiar.

Sementara itu Bapak Drs. H. Herry Moch. Djauhari selaku Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bandung menyambut baik dan terbuka kepada komunitas-komunitas atau siapapun yang ingin menyelenggarakan kegiatan yang berhubungan dengan budaya literasi di lingkungan Dispusip Kota Bandung dengan memberikan fasilitas ruang layanan baca yang terdiri dari ruang layanan baca anak, remaja dan dewasa hingga pojok sunda (buku-buku Bahasa Sunda).

“Saat ini Dispusip Kota Bandung telah membantu sebanyak 151 kelurahan di Kota Bandung dalam menyediakan dan memiliki taman baca, Selain itu Dispusip juga bekerjasama dengan komunitas baca menyediakan sudut baca di beberapa mall di Kota Bandung atau biasa dikenal dengan sebutan Library in the Mall (Bandung Indah Plaza, Baltos, Metro Indah Mall)”, tambah Herry “Untuk meningkatkan minat baca, Dispusip Kota Bandung juga menyelenggarakan lomba story telling (bercerita) kategori TK, SD/MI dan Guru PAUD pada hari Rabu, tanggal 26 April 2017”. Tutup Herry.

Pada sesi tanya jawab, muncul pertanyaan bagaimana dukungan dari pemerintah pusat untuk mengatasi masalah literasi atau langkah efektif apa agar meningkatkan budaya minat baca masyarakat Indonesia dari peringkat 64 dunia ?

Anggota Komisi X DPR RI, Nico Siahaan menjawab bahwa upaya peningkatan literasi mendapat dukungan dari pemerintah pusat karena sedang dibuat sebuah Rancangan Undang-Undang (RUU) mengenai Sistem Perbukuan. “Pemerintah pusat harus menyadari bahwa peningkatan literasi merupakan hal yang penting, sehingga dapat menyediakan anggaran untuk hal ini. Di dalam RUU mengenai Sistem Perbukuan ini membahas bagaimana agar masyarakat Indonesia bisa mendapat buku yang murah dan berkualitas serta bagaimana agar buku-buku tersebut dapat di distribusikan dengan baik hingga sampai ke daerah terpencil. Anggaran tersebut nantinya didorong ke perpustakaan nasional untuk mencetak buku dan mendistribusikan buku tersebut”, ucap Nico.

Beliau juga menambahkan bahwa saat ini pemerintah pusat membuat sebuah Rancangan Undang Undang (RUU) mengenai kemajuan kebudayaan dimana dibahas bagaimana agar setiap daerah memiliki ruang untuk mengembangkan kebudayaan masing-masing.

Diharapkan dengan adanya Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca ini masyarakat jadi lebih tahu dan mudah mengakses buku yang ada di perpustakaan kabupaten/kota dan provinsi, taman baca di kelurahan kecamatan serta di tempat-tempat umum. Serta diharapkan pandangan masyarakat mengenai perpustakaan yang terpinggirkan dan kumuh akan hilang dengan banyaknya fasilitas yang diberikan di tempat-tempat tersebut, sehingga kebiasaan masyarakat terhadap gadget dapat diatasi dengan membaca buku-buku yang bermanfaat.

Editor's choice 2017
No Comments

    Leave a reply