RESENSI BUKU “LAKI-LAKI KE-42” KARYA ATALIA PRARATYA

RESENSI BUKU “LAKI-LAKI KE-42” KARYA ATALIA PRARATYA

Oleh : Yustiani Rahmawita, SST. Par

Pustakawan Ahli Muda pada Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung

Judul : Laki-Laki Ke-42
Pengarang : Atalia Praratya
Tempat Terbit : Jakarta
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2021
Dimensi Isi : 128 hlm, 13,5 cm x 20 cm
Edisi/Cetakan : Cetakan 1
Subjek : Fiksi Indonesia
Klasifikasi : 899.221 3
ISBN : 9786020641065

Anotasi :

            Buku ini berkisah tentang tokoh wanita Chiara yang banyak mendapatkan pernyataan cinta dari teman laki-lakinya. Saking banyaknya, Mamah Chiara menyarankan untuk mencatat semua laki-laki yang pernah bilang sayang dan cinta kepada Chiara. Semua nama yang ada dalam daftar tersebut mempunyai kenangan tersendiri.

            Laki-laki ke-42 dalam hidup Chiara-lah yang kemudian berhasil  melamarnya setelah melalui perjalanan yang cukup panjang.

Kelebihan :

            Buku ini dituturkan oleh Atalia Praratya dengan gaya penulisan yang ringan, lincah dan jenaka. Pada saat memasuki halaman pertama, kita disambut oleh sapaan riang Chiara dengan hangat. Melalui kalimat dan pemilihan kata-katanya, kita seakan-akan diajak berbincang atau mendengarkan Chiara bercerita tentang kisah hidupnya mulai dari remaja hingga beranjak dewasa.

            Bagi pembaca yang telah melewati masa-masa remaja dan dewasa, tidak jarang berpikir, ih, ini mah kayak kisahku jaman dulu.

            Melalui tekhnik penulisan dengan POV pertama, kita sebagai pembaca seakan-akan ikut merasakan dan menyelami perasaan Chiara. Perasaan sedih dan tertekan saat harus berpisah dengan Ali. Perasaan cemas, khawatir, dan bingung saat ada lebih dari satu orang lelaki yang datang ke rumah untuk mengunjunginya. Atau bahkan perasaan galau dan berdebar-debar saat Angga melamarnya.

            Ending cerita dengan plot twist pada buku ini cukup mengejutkan dan meninggalkan bekas di hati pembaca. Oh, dia too, Laki-laki ke-42 nya?

            Secara garis besar, buku ini menarik dan layak dibaca. Melalui bahasanya yang ringan, dan  tidak terlalu tebal, buku ini tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikannya sampai halaman terakhir.

            Dengan kelompok sasaran pembaca dewasa (dengan rentang usia yang tidak jauh dengan Ibu Atalia Praratya), buku ini cocok untuk berada di dalam rak buku keluarga.

Kekurangan :

            Sosok Atalia Praratya yang terkenal sebagai Ibu Gubernur Jawa Barat atau mantan Ibu Walikota Bandung membuat pembaca yang sudah cukup mengenal beliau menjadi menduga-duga, apakah ini benar-benar kisah nyata? Lalu kemudian menduga-duga waktu dan tempat-tempat yang disinggung dalam cerita.

            Tidak disebutkannya waktu yang tepat di cerita ini, membuat pembaca tidak dapat membayangkan secara jelas, pada tahun berapa kisah ini dimulai dan diceritakan.        Pemustaka remaja jaman now, bisa jadi tidak bisa membayangkan bagaimana bentuk pager yang disebutkan dalam isi cerita. Atau kisah Sailor Moon yang menjadi judul salah satu bab dalam buku ini. Nama artis Farah Fawcett juga sempat disinggung pada halaman 58. Aktris kelahiran tahun 1947 dan tenar dengan film Charlie’s Angels nya ini booming di periode tahun 1976 sampai dengan tahun 1980 an.

            Bagi pembaca dengan kategori yang ‘serius’ dan imajinatif, bisa jadi buku ini belum menunjukkan ‘greget’ nya. Tekhnik showing yang disajikan belum membuat gambarannya di benak pembaca. Pendeskripsian laki-laki yang menyenangi, menyayangi dan mencintai juga belum terdeskripsikan dengan jelas.

Rekomendasi :

            Novel ini bisa berkembang dengan lebih optimal apabila penulis memberikan tekhnik showing yang lebih baik. Juga tentang penuturan waktu dan lokasi yang lebih detail. Bahkan, bisa menyamai dengan boomingnya novel Dilan karangan Pidi Baiq yang sama-sama mengambil latar belakang Kota Bandung sebagai lokasi cerita.

            Karakter lain selain Chiara dan Mamah Chiara sebaiknya juga ditampilkan dengan lebih baik, agar pembaca memahami alasan-alasan yang lebih mendalam, kenapa Chiara tidak menerima laki-laki yang tidak pintar, misalnya.  

            Tokoh Dina sebagai sahabat Chiara juga bisa juga disebut lagi sampai akhir cerita. Atau kalaupun tidak diceritakan secara mendetail, bisa ditampilkan atau diceritakan mengapa pada saat kuliah tidak bersahabat kembali.

0

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Login/Register access is temporary disabled